Ada satu nasihat yang saya dengar entah dari siapa —mungkin dari
teman, mungkin dari batin sendiri yang sedang butuh pembenaran— bahwa yang
sedikitnya enak, belum tentu banyaknya. Dan semakin ke sini, saya sadar
kalimat itu bukan sekadar peringatan, tapi bisa menjadi semacam tuntunan realitas kehidupan.
Coba lihat masakan sayur. Sesendok garam membuatnya ramah di lidah. Tapi tambahkan dua sendok lagi, kita akan merasa seperti menyantap hidangan yang... belum punya nama. Ilmu gizi malah bilang, menurut sebuah studi, bahwa lidah manusia memang bereaksi paling optimal pada kadar tertentu —melewati titik itu, otak justru mengirim sinyal “cukup, Bro!” Jadi lidah dan akal sehat rupanya kompak: sesuatu yang nikmat tidak otomatis perlu diborong.
Dalam hubungan sosial juga begitu. Sedikit perhatian terasa hangat. Banyak perhatian bisa berubah jadi intimidasi. Di dunia psikologi, ini disebut optimal stimulation: manusia butuh rangsangan dalam takaran pas, karena kelebihan stimulasi justru memicu stres. Makanya ada orang yang tadinya senang kalau ditanya “lagi di mana?” tapi keseringan, lama-lama menjawab pasrah dengan share location tanpa kata-kata.
Setelah berhasil mencapai titik “cukup” —dengan susah payah sekalipun, manusia cenderung menginginkan “lebih”. Fenomena ini terjadi di dunia politik, ekonomi, bahkan dalam urusan ngopi. Secangkir kopi di pagi hari menghangatkan hati. Tambah dua cangkir lagi menghangatkan perut… dan sekaligus membesarkannya. Ada ahli kesehatan yang bilang, “Semua makanan boleh, asal dosisnya tepat.” Tentu dia tak bilang berapa “dosis tepat” untuk cireng jam empat sore —mungkin karena dia tahu, kalau dikasih angka bisa timbul perdebatan panjang.
Akhirnya saya kembali pada nasihat tadi: ternyata hidup memang mencari “sedikit yang pas”, bukan “banyak yang memuaskan”. Bahkan bahagia pun katanya tidak perlu besar, cukup hadir kecil-kecil tapi sering —mirip rezeki, mirip cinta, mirip tawa.
Dan lucunya, setelah panjang lebar begini, saya sadar: tulisan ini pun —kalau kepanjangan— tidak lagi enak. Bukti lain bahwa yang sedikitnya enak, belum tentu banyaknya.***
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar