Patarema hero image

Selamat datang di Patarema

Ruang berbagi cerita, opini, dan refleksi — tempat kata bertemu, pikiran berkait, dan gagasan bertaut. Kadang lahir titik temu, kadang hanya benang merah, kadang sekadar perbedaan.
Dan itu tak mengapa.

Jelajahi Artikel

Selasa, 02 Desember 2025

Siapa Bilang Membaca Koran di Era Ponsel Itu Kuno?

Setiap pagi, di warung kopi dekat kantor, ada satu pemandangan yang tampak "kuno" dari dunia sekitarnya, dan seperti menolak tunduk pada zaman: seorang bapak paruh baya membentangkan koran kertas. Di meja lain, orang-orang menekuk kepala ke layar ponsel, berita datang silih berganti, notifikasi tumpang tindih tiada henti. Sementara dunia digital berlari, si bapak hanya sibuk meluruskan lipatan halaman —seakan menata pikirannya sendiri sebelum mengikuti alur berita.

Dalam kajian media, pergeseran dari cetak ke digital disebut sebagai perubahan ekologi media —istilah Neil Postman untuk menggambarkan bagaimana teknologi baru mengubah pola pikir dan perilaku manusia. Dari sisi neurosains, Maryanne Wolf menunjukkan bahwa bacaan digital mendorong otak ke mode skimming, bukan deep reading. Kita membaca lebih cepat dan lebih banyak, tetapi memahami lebih sedikit.

Penelitian di Eropa oleh Profesor Anne Mangen menyebut pengalaman fisik membaca koran sebagai bentuk embodied cognition —bahwa gerakan tangan, tekstur kertas, dan tata letak yang stabil membantu otak menyimpan informasi lebih baik.

Dari Indonesia, pengamat media Ignatius Haryanto pernah mengingatkan bahwa koran cetak sebenarnya bukan sekadar medium, tetapi “ritual sosial” yang melatih pembaca memilih, fokus, dan membangun konteks. Ketika semuanya berpindah ke digital, ujar Haryanto, kita bukan hanya kehilangan kertasnya, tetapi kehilangan kebiasaan menata informasi sebelum menelannya mentah-mentah.

Namun tentu saja, kita hidup di dunia yang bergerak dengan logika efisiensi. Digital memberi kecepatan, akses instan, pembaruan real time —barang mewah yang tidak mampu ditandingi koran cetak mana pun. Karena itu, mereka yang masih membaca koran hari ini bukan sekadar nostalgia berjalan; mereka mewakili ruang jeda yang mulai menghilang dari kehidupan modern.

Dan setiap kali melihat bapak itu membuka halaman pertama, saya selalu bertanya-tanya: kalau “kuno” mampu membuat kita membaca lebih tenang dan lebih jernih… sebenarnya siapa yang benar-benar ketinggalan?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar