Patarema hero image

Selamat datang di Patarema

Ruang berbagi cerita, opini, dan refleksi — tempat kata bertemu, pikiran berkait, dan gagasan bertaut. Kadang lahir titik temu, kadang hanya benang merah, kadang sekadar perbedaan.
Dan itu tak mengapa.

Jelajahi Artikel

Minggu, 07 Desember 2025

Sadar atau Tidak, Pikiranmu Mengarahkan Hidupmu Setiap Hari

Pagi itu saya terlambat bangun. Alarm berbunyi, kopi belum siap, dan jalanan di luar hujan tipis —seolah semua sedang menantang saya untuk memilih, kesal atau santai. Sambil menunggu ojek online, saya melihat tetangga yang sudah bergegas dengan payung di tangan. Ada sesuatu yang membuat saya tersadar: langkah mereka seperti ringan, padahal sama-sama harus menghadapi hujan. Bedanya cuma satu: pikiran.

Pikiran itu seperti GPS internal. Kalau sinyalnya kacau, kita tersesat. Kalau kita biarkan pikiran negatif mengambil alih, langkah kita terasa berat, jalan hidup terasa macet, keputusan kecil pun berasa seperti mendaki gunung. Tapi kalau kita sadar dan “set” pikiran untuk fokus, optimis, dan kreatif, arah hidup bisa berubah drastis. Tiba-tiba rute panjang terasa lebih ringan, pilihan rumit lebih jelas, dan masalah yang tadinya kelihatan seperti badai, ternyata cuma hujan gerimis.

Menariknya, otak manusia selalu mencari logika —bahkan di hal sepele. Saat kita berpikir: “Ah, ini nggak akan berhasil,” otak segera menyiapkan alasan untuk membenarkan kegagalan. Tapi kalau kita berpikir: “Bagaimana kalau ini berhasil?” otak pun akan mencari peluang, strategi, dan jalan keluar. Pikiran itu seperti filter kacamata yang menentukan warna dunia yang kita lihat.

Dan ketika akhirnya saya tiba di kantor, basah sedikit tapi masih bisa tersenyum —saya tersadar: pagi itu adalah latihan kecil untuk memilih pikiran. Sama seperti tetangga dengan payung tadi, saya belajar bahwa arah hidup bisa terasa ringan jika kita mengarahkan pikiran dengan tepat. Kadang, hanya satu pilihan kecil di awal pagi bisa membuat seluruh hari terasa berbeda.***

Sabtu, 06 Desember 2025

Kenapa Kita Malah Merasa Bersalah Kalau Nggak Ngasih?

Di kampung kita, memberi itu seperti refleks. Ada tamu datang, kita suguhkan kopi. Ada tetangga hajatan, kita bantu suguhan. Ada tukang sampah lewat, kita kasih “uang rokok”. Bahkan kalau lagi senang hati, kita kasih keponakan uang jajan padahal dia nggak minta. Semua terasa alami, seperti bersin: keluar begitu saja.

Masalahnya mulai muncul ketika “refleks memberi” itu terbawa ke lingkungan formal. Orang tua murid kasih kue ke guru anaknya di akhir semester. Urus KTP, ada rasa kurang afdol kalau tidak kasih Pak RT. Urus izin usaha, kita spontan siapin amplop buat staf kelurahan. Tidak ada yang menyuruh, tapi tangan kita gatal. Kalau tidak memberi, yang ada malah rasa bersalah.

Lalu pertanyaan besar pun muncul: itu tadi sedekah, hadiah, atau sogokan?

Budaya kita bilang: memberi itu membuat hubungan hangat. Tapi hukum modern bilang: memberi pada pejabat itu gratifikasi. Bahkan KPK sudah bikin definisi panjang, lengkap dengan cara melapor. Lucunya, warga biasa kadang merasa KPK terlalu serius. “Masa kasih kue lebaran ke lurah harus dilapor?”

Secara psiko-sosial, ini masuk akal. Otak kita suka sekali dengan rasa mutual obligation —perasaan bahwa orang yang sudah kita beri akan ingat budi. Otak primitif kita menyukainya karena di masa lalu, itu cara bertahan hidup: berbagi makanan berarti mendapatkan perlindungan kelompok. Sayangnya, di dunia modern, “ingatan budi” bisa berubah menjadi “percepatan layanan” atau “prioritas antrean”, dan itu yang membuat pemberian kecil tadi jadi ancaman besar.

Dari sisi adat, memberi itu bukan hanya soal barang, tapi menjaga muka. Makanya, menolak pemberian kadang dianggap menghina. Celakanya, ketika pejabat menolak amplop warga, justru warga yang tersinggung: “Bapak merendahkan saya?!” Padahal pejabatnya sedang berusaha patuh aturan.

Kita semua akhirnya bermain peran di panggung yang absurd. Warga memberi sambil berbisik, “Buat rokok...” Pegawai menerima sambil berkata, “Waduh, gimana ya...” Tapi diam-diam amplopnya masuk laci juga. Semua terjadi begitu saja.

Mungkin masalahnya bukan pada memberi atau menerima, tapi pada kapan dan untuk apa kita memberi. Kalau memberi setelah urusan selesai, tanpa pamrih, itu lebih dekat dengan sedekah atau hadiah. Tapi kalau memberi agar urusan lancar, cepat, atau diprioritaskan, kita sebenarnya sedang “membeli” sesuatu yang seharusnya gratis. Kita perlu membedakan antara “membalas budi” dengan “membayar jasa”.

Ujung-ujungnya kita semua seperti dipenjara oleh rasa sungkan. Bukan karena ada aturan tertulis, tapi karena takut dianggap pelit, nggak tahu diri, atau nggak menghargai. Ironisnya, rasa bersalah itu lebih besar saat tidak ngasih ketimbang saat ngasih, meskipun pemberian itu bisa bikin urusan jadi abu-abu antara sedekah, hadiah atau sogokan.

Kalau refleks ini diteruskan, jangan heran suatu saat nanti kita juga harus siapin amplop buat dapat senyum tetangga, atau buat memastikan doa ustadz di pengajian bener-bener khusyuk sampai ke langit. Dan kalau itu sudah jadi kebiasaan, jangan tanya lagi apa bedanya sedekah, hadiah, atau sogokan. Jawabannya cuma satu dan itu sudah terbungkus rapi dengan nama yang manis: “uang rokok”.***

Jumat, 05 Desember 2025

Inilah Alasan Kamu Harus Spesifik Jika Ingin Menjadi Seseorang

Sejak kecil, kita sering ditanya: “Kalau besar nanti, mau jadi apa?” Dan banyak dari kita menjawab tanpa ragu: “Jadi orang yang sukses, berguna bagi nusa, bangsa dan agama!” Sederhana, ambisius, dan… kabur. Kita merasa jawaban itu cukup, seolah dunia menunggu untuk memberi kita tempat istimewa.

Namun, waktu berjalan, pengalaman menumpuk, dan kita mulai sadar bahwa “menjadi seseorang” bukan sekadar hadir di dunia. Banyak orang ingin sama —bahkan lebih bersuara, lebih menonjol, lebih cepat. Jika kita tidak spesifik, kita akan terseret arus tanpa arah, atau menjadi bayangan orang lain.

Kesadaran itu muncul ketika aku berhenti sebentar dan menanyakan pada diri sendiri: siapa sebenarnya “seseorang” yang ingin aku jadi? Apakah yang sukses secara materi? Apakah yang dikenal banyak orang? Atau yang memberi dampak nyata bagi lingkungannya? Ternyata, jawaban yang benar-benar bermakna hanya bisa lahir dari kejujuran terhadap diri sendiri.

Aku menyadari, masalahnya bukan pada mimpinya. Masalahnya pada ketidakspesifikanku. Aku ingin menjadi seseorang, tetapi belum jelas siapa. Baru ketika aku mulai memberi bentuk pada mimpiku —menentukan nilai, tujuan, dan cara hidup yang selaras dengan prinsipku— aku merasa arah mulai terlihat.

Hari ini, aku masih ingin menjadi seseorang. Tapi seseorang yang tepat, yang bisa aku banggakan, yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku, dan yang tetap setia pada diri sendiri. Menjadi spesifik tidak mengurangi ambisi; justru memberi arah agar setiap langkah lebih bermakna.

Menjadi seseorang itu bukan tentang menjadi hebat menurut dunia, tapi tentang menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Dan di situlah, pada akhirnya, kita menemukan bahwa jalan menuju “seseorang” itu bukanlah satu garis lurus, melainkan rangkaian langkah sadar yang membentuk jejak hidup yang layak dikenang.

Jadi, kalau ada yang bertanya: dulu waktu kecil mau jadi apa, sekarang kamu jawabnya apa?***