Namun, waktu berjalan, pengalaman menumpuk, dan kita mulai sadar bahwa “menjadi seseorang” bukan sekadar hadir di dunia. Banyak orang ingin sama —bahkan lebih bersuara, lebih menonjol, lebih cepat. Jika kita tidak spesifik, kita akan terseret arus tanpa arah, atau menjadi bayangan orang lain.
Kesadaran itu muncul ketika aku berhenti sebentar dan menanyakan pada diri sendiri: siapa sebenarnya “seseorang” yang ingin aku jadi? Apakah yang sukses secara materi? Apakah yang dikenal banyak orang? Atau yang memberi dampak nyata bagi lingkungannya? Ternyata, jawaban yang benar-benar bermakna hanya bisa lahir dari kejujuran terhadap diri sendiri.
Aku menyadari, masalahnya bukan pada mimpinya. Masalahnya pada ketidakspesifikanku. Aku ingin menjadi seseorang, tetapi belum jelas siapa. Baru ketika aku mulai memberi bentuk pada mimpiku —menentukan nilai, tujuan, dan cara hidup yang selaras dengan prinsipku— aku merasa arah mulai terlihat.
Hari ini, aku masih ingin menjadi seseorang. Tapi seseorang yang tepat, yang bisa aku banggakan, yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku, dan yang tetap setia pada diri sendiri. Menjadi spesifik tidak mengurangi ambisi; justru memberi arah agar setiap langkah lebih bermakna.
Menjadi seseorang itu bukan tentang menjadi hebat menurut dunia, tapi tentang menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Dan di situlah, pada akhirnya, kita menemukan bahwa jalan menuju “seseorang” itu bukanlah satu garis lurus, melainkan rangkaian langkah sadar yang membentuk jejak hidup yang layak dikenang.
Jadi, kalau ada yang bertanya: dulu waktu kecil mau jadi apa, sekarang kamu jawabnya apa?***
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar