Patarema hero image

Selamat datang di Patarema

Ruang berbagi cerita, opini, dan refleksi — tempat kata bertemu, pikiran berkait, dan gagasan bertaut. Kadang lahir titik temu, kadang hanya benang merah, kadang sekadar perbedaan.
Dan itu tak mengapa.

Jelajahi Artikel

Kamis, 04 Desember 2025

Gagal di Langkah Pertama? Bisa Jadi Itu Peluang Menuju Kesuksesan Besar

Ada satu jenis manusia yang dikenal “sakti”: tidak pernah gagal. Rekornya sempurna —nol kekalahan, nol cedera, nol drama. Terdengar hebat, sampai kita tahu satu fakta kecil yang merontokkan auranya: dia memang tidak pernah ikut lomba. Tidak pernah turun gelanggang. Tidak pernah berada dalam situasi di mana kalah itu mungkin, dan menang itu pantas dirayakan. Kesaktiannya bertumpu pada… absensi total.

Ini seperti mengklaim diri pejuang cinta padahal sepanjang hidup tidak pernah menyatakan perasaan ke siapa pun. “Gua gak pernah ditolak,” katanya bangga. Ya jelas —kalau tidak pernah mengetuk pintu, gimana mau digedor balik?

Dunia sering terpesona oleh kesaktian model begini. “Dia mah hebat, gak pernah kalah,” kata orang. Ya iyalah. Tidak pernah kalah, karena tidak pernah bertanding. Tidak pernah rugi, karena tidak pernah investasi. Tidak pernah meleset, karena tidak pernah menargetkan apa-apa. Itu kesaktian level kursi goyang: stabil, nyaman, tapi tidak ke mana-mana.

Sementara di ujung lain arena kehidupan, ada orang-orang yang wajahnya lecet, hatinya memar, dan mentalnya sering dikepret realitas. Mereka kalah, iya. Mereka salah langkah, sering. Tapi mereka maju. Mereka mencoba. Mereka punya riwayat, bukan sekadar reputasi kosong. Hidup mereka penuh plot twist, bukan sekadar catatan “status quo” yang membosankan.

Itulah kenapa, saat ada nasihat absurd yang bilang, “Berusaha adalah langkah pertama menuju kegagalan,” kita perlu menambahkan bab lanjutan: segala hal berharga dalam hidup—cinta, karya, rezeki, penghargaan diri—juga dimulai dari langkah pertama. Kegagalan mungkin datang, iya. Tapi keberhasilan tidak pernah datang ke orang yang menunggu dalam diam.

Dan di usia dewasa, hidup tanpa cerita bukanlah kenetralan. Itu justru kekalahan paling rapi. Maka kalau perlu gagal, gagallah dengan catatan, gagallah dengan cerita, gagallah sambil bergerak. Karena dari langkah pertama —yang katanya langkah menuju kegagalan itu— justru pintu-pintu hidup yang lebih besar mulai terbuka.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar