Di sebuah sudut trotoar yang ramai, saya melihat seorang anak kecil dipaksa mundur oleh dua remaja bertampang preman—jaket hitam lusuh, rambut kusam agak berantakan, dan gaya berjalan yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama. Mereka jauh lebih besar dari anak itu, baik tubuh maupun suaranya. Bukan adegan heroik ala film. Hanya perselisihan sepele: rebutan tempat duduk di halte. Orang-orang lewat begitu saja, termasuk saya yang sempat menahan langkah — tapi tidak cukup berani untuk benar-benar berhenti.
Di momen-momen seperti itu, kita sering sadar bahwa keberanian bukanlah hal yang terlatih. Ia lebih mirip sesuatu yang muncul dari ketidaknyamanan moral. Perasaan "ini nggak bener" yang perlahan naik ke ubun-ubun, menuntut kita melakukan sesuatu, sekecil apa pun. Namun, sering pula kita merasakan dorongan sebaliknya: "gak usah ikut campur", "jangan bikin masalah", "nanti malah repot".
Ketakutan-ketakutan itu wajar. Nyaris setiap orang memilikinya. Tetapi justru di situlah saya menyadari paradoks: kita hidup di dunia yang memuja kekuatan, tetapi melupakan keberanian yang tersembunyi. Keberanian yang tidak tumbuh dari otot, melainkan dari hati yang tak rela melihat yang lemah disakiti.
Setelah beberapa detik yang terasa lebih panjang dari yang seharusnya, seorang bapak-bapak berbadan kecil —berseragam ojek online yang tampak kebesaran di tubuhnya— akhirnya melangkah ke arah anak itu. Tanpa suara tinggi, tanpa gertakan. Ia hanya berkata pelan, "Ayo, yang gede ngalah!" Remaja-remaja bertampang preman itu mendecak, tapi mereka pergi juga.
Reaksi orang-orang? Biasa saja. Tak ada tepuk tangan. Tak ada pahlawan. Hanya kelegaan kecil yang cepat hilang ditelan hiruk-pikuk jalanan. Tapi bagi saya, adegan itu seperti cermin: betapa keberanian sering lahir bukan dari orang paling kuat, melainkan dari orang yang paling tidak tahan melihat ketidakadilan.
Saya berjalan lagi, melewati halte itu dengan langkah ringan dan rasa malu yang samar. Mungkin hari ini bukan giliran saya. Mungkin saya sedang belajar dari jauh bahwa kebaikan kadang hanya menunggu satu orang yang berani lebih dulu.
Dan ketika saya memutar kembali adegan itu, saya paham satu hal: keberanian sejati bukan tentang siapa yang kuat, tapi siapa yang tak rela melihat yang lemah disakiti — bahkan jika keberanian itu muncul di halte kecil di pinggir jalan, pada sore yang hampir kita lewatkan begitu saja.***
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar