Beberapa bulan lalu, seorang
teman lama bercerita tentang perjalanannya ke Rütli Meadow,
padang rumput bersejarah di tepi Danau Lucerne, Swiss. Ia berdiri di tengah hamparan
hijau, menatap sapi-sapi cokelat dan berbintik putih yang merumput dengan
tenang. Lonceng kecil di leher sapi bergoyang pelan, menandai irama hidup yang
damai. Di kejauhan, rumah-rumah kayu dengan atap merah tampak seperti diukir
langsung di kaki pegunungan Alpen, seolah dunia ini diciptakan untuk foto
kalender. Temanku terkagum, sambil bergumam, “Di sini, damai itu bisa dicium
aromanya.”
Yang membuatnya terkagum bukan cuma pemandangan, tapi cara hidup petani Swiss. Mereka bangun pagi, menggembalakan sapi, memerah susu, menyiapkan ladang, semuanya rapi, bersih, dan tepat waktu. Bunga-bunga liar tumbuh teratur di pinggir padang, tidak ada sampah berserakan, bahkan rumput pun seolah tahu batasnya. “Sapi-sapi di sini lebih disiplin daripada mahasiswa kita,” katanya tertawa sambil mengenang kebersamaan ketika sama-sama mengajar di salah satu kampus.
Bayangkan
kalau bukit dan pesawahan kita di Indonesia seperti Alpen Swiss.
Sapi di kampung bisa saja merumput di lereng bukit, tapi tiba-tiba ada ayam
yang ikut-ikutan, bebek menyeberang sawah, dan kambing tetangga lompat dari
satu bukit ke bukit lain. Lonceng sapi bergoyang bukan karena angin, tapi
karena anak-anak kampung sengaja mengetuknya sambil lari-lari. Rumah panggung
kayu mungkin bakal dihiasi atap plastik warna-warni bekas spanduk konser
dangdut, mungkin juga dari tetangga yang jualan bakso atau bekas kampanye waktu
pencalonan anggota DPRD. Damai Swiss? Jadinya chaos Indonesia yang hangat dan berisik.😅
Tapi justru lucu melihat perbedaan itu. Di Swiss, sapi menunggu pemiliknya dengan sabar; di Indonesia, sapi menunggu apa pun kecuali pemiliknya. Di sana, burung-burung ikut melengkapi simfoni padang rumput; di sini, burung gereja berebut nasi sisa, bersaing dengan kadal dan tikus. Semua berisik, tapi tetap terasa hidup.
Temanku menutup ceritanya dengan senyum lebar, membayangkan sapi Swiss sedang mengedipkan mata pada ayam kampung dan tukang bakso keliling. Jika padang rumput itu ada di Indonesia, pemandangannya tetap mempesona, tapi sedikit lebih kacau, penuh warna, aroma, dan suara —persis seperti kehidupan kita sendiri: dramatis, lucu, dan hangat. Dan ia sadar, damai itu bukan cuma soal keheningan, tapi tentang cara kita menikmati setiap kegaduhan hidup.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar