Patarema hero image

Selamat datang di Patarema

Ruang berbagi cerita, opini, dan refleksi — tempat kata bertemu, pikiran berkait, dan gagasan bertaut. Kadang lahir titik temu, kadang hanya benang merah, kadang sekadar perbedaan.
Dan itu tak mengapa.

Jelajahi Artikel

Senin, 10 November 2025

Euforia Bangsa yang Terlalu Lama Dianggap Remeh

Berbeda dengan bangsa-bangsa besar yang diam-diam —atau bahkan terang-terangan— berupaya menguasai yang lemah; bangsa kecil atau tertindas justru punya kebiasaan lain: mereka merayakan. Bukan perayaan kemenangan, tentu saja, melainkan euforia kolektif ketika ada satu dari mereka yang tiba-tiba menonjol di panggung dunia, dan tampil menjadi “pahlawan”. Satu orang itu seakan menjadi simbol: bahwa mereka ada, bahwa nama bangsanya masih bisa disebut dengan nada bangga, meskipun sebatas gema dari kejauhan.

Fenomena ini bukan sekadar spontanitas emosional. Sosiolog Benedict Anderson pernah menggarisbawahi bahwa bangsa adalah imagined community — komunitas yang dibayangkan, tapi sangat nyata dalam ikatan psikologisnya. Maka ketika seorang atlet meraih medali atau ilmuwan kecil dari negeri terpencil memenangkan penghargaan global, jutaan orang yang tak saling kenal merasa mengalami kemenangan yang sama. Identitas kolektif mendadak menemukan medium untuk mengekspresikan diri.

Dunia psikologi sosial pun punya istilah yang pas: vicarious pride, kebanggaan yang dirasakan melalui pencapaian orang lain. Dalam konteks bangsa kecil, vicarious pride bukan sekadar emosi sesaat, tetapi mekanisme psikologis yang berfungsi seperti plester di atas luka harga diri yang panjang. Terlalu lama diremehkan membuat setiap pengakuan terasa seperti balasan yang manis — dan sayangnya, juga membuat kita terlalu cepat puas.

Padahal, ada sisi gelap yang jarang kita akui. Ketika bangsa besar menegakkan pengaruh melalui strategi, teknologi, dan kekuatan institusi, bangsa kecil sering terjebak dalam perayaan simbolik. Kita membesarkan nama satu orang, namun lupa menyiapkan sistem yang memungkinkan seratus orang lain menyusul. Prestasi individu akhirnya menjadi mercusuar: terang pada puncaknya, gelap di bawahnya.

Dalam konteks ini, pemikiran Ibn Khaldun terasa relevan. Ia menegaskan bahwa kekuatan suatu bangsa bertumpu pada solidaritasnya, bukan pada kejayaan satu figur. "Individu dapat menyalakan kebanggaan, tetapi persatuanlah yang menjaga nyala itu tetap hidup." Sebuah pengingat bahwa kebangkitan kolektif tidak pernah lahir dari satu pahlawan, melainkan dari struktur sosial yang saling menguatkan.

Dan mungkin di situlah ironi yang diam-diam kita pelihara: bangsa-bangsa besar terus bergerak dengan ambisi menaklukkan, sementara bangsa kecil masih sibuk merayakan munculnya satu “pahlawan” yang tampil sesekali di panggung dunia. Tapi siapa tahu, suatu hari euforia itu berubah arah — bukan lagi sekadar selebrasi simbolik yang bergema dari kejauhan, melainkan pijakan untuk benar-benar membangun harga diri kolektif. Pada akhirnya, kita tak perlu menaklukkan siapa pun untuk dianggap ada; cukup berhenti merasa bahwa satu orang harus selalu menjadi bukti bagi seluruh bangsa.

Karena mungkin, justru ketika kita berhenti menunggu “pahlawan”, di situlah bangsa kecil berhenti menjadi kecil.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar