Fenomena ini bukan sekadar spontanitas emosional. Sosiolog Benedict Anderson pernah menggarisbawahi bahwa bangsa adalah imagined community — komunitas yang dibayangkan, tapi sangat nyata dalam ikatan psikologisnya. Maka ketika seorang atlet meraih medali atau ilmuwan kecil dari negeri terpencil memenangkan penghargaan global, jutaan orang yang tak saling kenal merasa mengalami kemenangan yang sama. Identitas kolektif mendadak menemukan medium untuk mengekspresikan diri.
Dunia
psikologi sosial pun punya istilah yang pas: vicarious
pride, kebanggaan yang dirasakan melalui pencapaian orang lain. Dalam
konteks bangsa kecil, vicarious pride
bukan sekadar emosi sesaat, tetapi mekanisme psikologis yang berfungsi seperti
plester di atas luka harga diri yang panjang. Terlalu lama diremehkan membuat
setiap pengakuan terasa seperti balasan yang manis — dan sayangnya, juga
membuat kita terlalu cepat puas.
Padahal,
ada sisi gelap yang jarang kita akui. Ketika bangsa besar menegakkan pengaruh
melalui strategi, teknologi, dan kekuatan institusi, bangsa kecil sering
terjebak dalam perayaan simbolik. Kita membesarkan nama satu orang, namun lupa
menyiapkan sistem yang memungkinkan seratus orang lain menyusul. Prestasi
individu akhirnya menjadi mercusuar: terang pada puncaknya, gelap di bawahnya.
Dalam
konteks ini, pemikiran Ibn Khaldun
terasa relevan. Ia menegaskan bahwa kekuatan suatu bangsa bertumpu pada solidaritasnya,
bukan pada kejayaan satu figur. "Individu
dapat menyalakan kebanggaan, tetapi persatuanlah yang menjaga nyala itu tetap
hidup." Sebuah pengingat bahwa kebangkitan kolektif tidak pernah lahir
dari satu pahlawan, melainkan dari struktur sosial yang saling menguatkan.
Dan mungkin di situlah ironi yang diam-diam kita pelihara: bangsa-bangsa besar terus bergerak dengan ambisi menaklukkan, sementara bangsa kecil masih sibuk merayakan munculnya satu “pahlawan” yang tampil sesekali di panggung dunia. Tapi siapa tahu, suatu hari euforia itu berubah arah — bukan lagi sekadar selebrasi simbolik yang bergema dari kejauhan, melainkan pijakan untuk benar-benar membangun harga diri kolektif. Pada akhirnya, kita tak perlu menaklukkan siapa pun untuk dianggap ada; cukup berhenti merasa bahwa satu orang harus selalu menjadi bukti bagi seluruh bangsa.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar