Patarema hero image

Selamat datang di Patarema

Ruang berbagi cerita, opini, dan refleksi — tempat kata bertemu, pikiran berkait, dan gagasan bertaut. Kadang lahir titik temu, kadang hanya benang merah, kadang sekadar perbedaan.
Dan itu tak mengapa.

Jelajahi Artikel

Sabtu, 01 November 2025

Sabtu, Oase di Padang Gersang

Kalau rutinitas sepekan kemarin terasa seperti padang pasir yang gersang, maka hari Sabtu sering menjadi oase di tengah perjalanan. Setelah lima hari berjalan di bawah teriknya tanggung jawab dan riuh pekerjaan, tibalah satu hari yang memberi jeda — tempat kita meneguk air segar, menenangkan langkah, dan mengingat kembali arah yang ingin dituju. Sabtu bukan sekadar hari di kalender, melainkan napas yang menandai bahwa kita masih manusia, bukan mesin.

Dalam pandangan psikologi, manusia membutuhkan “ritme pemulihan” untuk menjaga keseimbangan mental dan emosi. Tanpa jeda, produktivitas menurun dan stres meningkat. Karena itu, hari Sabtu berperan seperti mata air: kecil, tapi menyelamatkan. Ia menampung segala lelah yang tak sempat dituang sepanjang minggu, memberi ruang bagi kepala yang penuh rencana untuk sekadar diam.

Secara biologis, tubuh kita pun mengenal waktunya sendiri. Pola tidur, hormon stres, hingga energi otak beradaptasi dengan siklus kerja dan istirahat. Maka tak heran jika Sabtu pagi terasa berbeda — jantung berdetak lebih tenang, langkah lebih ringan, dan pikiran mulai menata ulang prioritas hidup. Dalam kesunyian itu, kita seperti sedang minum dari sumur yang dalam: sedikit saja cukup untuk menyegarkan jiwa.

Namun oase bukan tempat untuk tinggal selamanya. Ia hanya perhentian, bukan tujuan. Hidup tetap menuntut kita berjalan lagi, menghadapi hari-hari berikutnya. Justru karena itulah, maka Sabtu menjadi berharga bahwa keindahannya ada pada kefanaan. Kita tahu ia akan segera berlalu, tapi justru di sanalah kita belajar menikmati setiap teguk waktu yang tersisa.

Barangkali, Sabtu bukan sekadar hari libur. Ia adalah simbol bahwa dalam perjalanan hidup yang gersang sekalipun, selalu ada kesempatan untuk berhenti sejenak, menatap langit, dan berkata, “Aku masih sanggup melangkah.” Dan ketika nanti matahari mulai condong ke barat, kita sadar — tak apa berjalan lagi, karena kita pernah singgah di oase yang memberi hidup.***



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar